Monday, July 21, 2014

Pria Bertubuh Tinggi Selalu Tampak Lebih Istimewa

Bagi perempuan, pria dengan postur tubuh yang tinggi, memiliki daya pikat tersendiri, dibandingkan pria dengan tinggi yang terbilang standar dan pendek. Bahkan, pria yang bertubuh macho tidak termasuk dalam kategori fisik paling diimpikan kaum perempuan.
Pria dengan perawakan tinggi mengesankan seseorang yang  bisa melindungi dan penuh perhatian, sehingga menimbulkan rasa nyaman. Hal ini tak mengherankan, karena kenyamanan adalah salah satu unsur yang memengaruhi kelanggengan sebuah hubungan.


Seperti yang diungkapkan oleh seorang psikolog bernama Portia Hickey, dan dikutip dari laman Daily Mail, “Saat menggambarkan fisik ideal pria impian, pada umumnya perempuan akan menjawab mereka menyukai pria yang tinggi. Daya tarik pria tinggi sering diasosiasikan dengan status sosial yang lebih baik dan daya reproduksi yang lebih kuat. Memiliki pasangan menghadirkan perasaan yang nyaman, maka dari itulah mereka terlihat lebih memikat,’’
Menurut survei yang dilakukan oleh Hickey, dan melibatkan 1.400 responden yang sebagian besar perempuan, terungkap bahwa pria dengan tinggi badan minimal 180 cm dinilai lebih gagah dan tegas, layak menjadi seorang kepala keluarga. Selain itu, bayangan betapa menggemaskannya mereka ketika sedang menimang bayi, membuat jantung perempuan berdegup kencang, saat berhadapan dengan pria berpostur tubuh tinggi.
Temuan di atas diperkuat dengan data statistik survei yang menjabarkan, sebanyak 71 persen responden perempuan yang pernah melakukan blind date, mengaku ‘hilang selera’ saat kali pertama bertemu pasangan, ternyata tubuh sang pria tidak lebih tinggi dari mereka.


Kemudian, menurut 63 persen perempuan, tinggi ideal seorang pria minimal 175 sentimeter. Tak sampai di situ, pria yang memiliki tinggi badan dibawah angka tersebut, harus berupaya lebih keras untuk mendapatkan perhatian perempuan,ouch!  (kompas)

Ayo segera coba Peninggi Badan Tiens yang sudah terbukti dapat menambah tinggi badan secara alami !

Saturday, July 19, 2014

Usia di Atas 20, Bisakah Tinggi Badan Bertambah?


Tinggi badan bisa menjadi masalah serius dan sensitif, terutama bagi pria. Itu karena "tuntutan" masyarakat mengenai sosok pria ideal adalah tinggi tegap. Untuk mendapat tinggi badan ideal itu, diperlukan tiga hal yang saling terkait dan menunjang, yakni faktor genetik, nutrisi, dan aktivitas.



Wili mengeluhkan tinggi badannya yang hanya 155 cm. "Saya ini masuk kategori terpendek di antara teman-teman. Saya sering diejek 'Si Kate' atau semampai, alias semester tak sampai," ujar mahasiswa kedokteran ini.



Di usia 21 tahun, ia masih menyimpan sedikit asa untuk menambah tinggi badannya. "Saya tahu sudah terlambat, tapi saya ingin bertambah tinggi lima cm lagi," ucapnya. Mungkinkah?



Dijelaskan oleh Dr Andito Wibisono SpOt, ahli bedah tulang dari RS Bintaro, tinggi badan dipengaruhi gen. "Kalau orang memiliki gen tinggi yang bagus, pasti akan tinggi. Gen ini didapat dari keturunan. Contohnya, orang Afrika umumnya kurus tinggi karena bangsa mereka memiliki gen tinggi yang bagus," paparnya,



Dipengaruhi gen
Hasil penelitian terkini menemukan sebuah gen yang menentukan tinggi pendeknya seseorang, namanya HMGA2. Perubahan sebuah "huruf" dasar di kode genetik HMGA2, yakni C (Cytosine) akan berpengaruh.



Seseorang yang hanya mendapatkan C dari salah satu orangtua, lebih tinggi 0,5 cm dari yang hanya memiliki T (Thymin). Bila memiliki C ganda, akan lebih tinggi 1 cm dari yang memiliki T ganda. Tentu masih ada gen lain yang berkaitan dengan tinggi badan. HMGA2 hanya menjelaskan 0,3 persen dari keberagaman tinggi manusia.



Beberapa ahli menyatakan, semua orang masih berpeluang lebih tinggi jika memiliki kakek buyut dengan postur tinggi. Ini menjelaskan mengapa ada anak yang lebih tinggi ketimbang orangtuanya. Dalam kondisi ini ada semacam faktor keberuntungan. Jadi gen tinggi itu hanya "melangkahi" orangtua si anak, sedangkan si cucu mendapat warisan gen tinggi dari kakeknya. 



Lempeng "epiphyseal"
Pusat pertumbuhan tinggi manusia, lanjut Dr Andito, berada pada lempeng epiphyseal plateyang terletak di ujung tiap tulang panjang. Epiphyseal plate ini ada sejak manusia lahir dan menutup alias berhenti bekerja saat usia 16 tahun (wanita) dan 18 (pria). "Maksimal usia 20-21 tahun. Jika lempeng ini sudah menutup, pertumbuhan tinggi turut berhenti," ujarnya.



Pertumbuhan tinggi seseorang bisa terganggu jika terjadi sesuatu pada lempengepiphyseal. Cedera, trauma akibat kecelakaan, penyakit kanker tulang bisa merusak kerja lempengan ini.



Lempeng ini tidak bekerja sendirian. "Hormon pertumbuhan dan banyak hormon lain turut menentukan kinerjanya," katanya. Untuk menunjang kerja hormon-hormon ini diperlukan gizi yang cukup.



Menurut Dr Andito, bangsa Jepang dulu dikenal pendek atau kate. Kini tinggi mereka sama dengan rata-rata orang Indonesia. "Hal itu karena ada perbaikan nutrisi dari generasi ke generasi," sebutnya.



Untuk bertambuh ke atas, tubuh memerlukan semua zat dan mineral yang ada dalam makanan. "Makan empat sehat lima sempurna atau makanan seimbang sudah cukup. Jadi tidak hanya makan yang mengandung kalsium melulu. Nanti tulangnya kuat, tapi bagian lain tubuh kekurangan nutrisi penting," katanya.



Tak ada ukuran baku
Kegiatan sehari-hari-juga berperan dalam urusan tinggi badan. Aktivitas yang dapat merangsang kerja lempeng epiphyseal, misalnya atletik, basket, berenang, dan lompat tali. "Olahraga ini mesti dilakukan pada masa pertumbuhan. Jika dilakukan setelah masa pertumbuhan, ya sia-sia saja," ujarnya.



Ketiga faktor tadi saling terkait. "Jika memiliki gen tinggi tapi tidak didukung nutrisi dan olahraga, bisa jadi pertumbuhannya mandek dan tidak optimal," imbuhnya.
Mengenai standar tinggi seseorang, menurut Dr Andito, tak ada ukuran baku. "Bagi orang Indonesia, tinggi badan 170 cm sudah dianggap cukup, meski bagi orang Eropa tergolong kurang tinggi. Jadi standardisasi tinggi badan tergantung masyarakat menilainya," katanya. (sehatnews)

Teman-teman jangan khawatir yang di atas 20 tetap bisa menambah tinggi badan dengan paket peninggi badan Tiens yang sudah terbukti di mana-mana.

Tuesday, July 15, 2014

Inhaler Asma Pengaruhi Tinggi Badan Anak


Pengidap asma, baik anak-anak atau dewasa bisa menggunakan inhaler untuk meredakan gejala asma dengan cepat. Namun, menurut penelitian anak-anak yang memakai inhaler glukokortisoid beresiko terganggu pertumbuhan tinggi badannya.

Inhaler atau alat untuk menghirup obat memungkinkan pengidap asma bisa mengantar obat langsung ke paru-paru kapan saja di mana saja.

Sebuah penelitian pernah menunjukkan bahwa obat asma bisa memperlambat pertumbuhan tinggi badan, tetapi para pakar mengatakan pertumbuhan anak akan kembali normal beberapa tahun pasca terapi. 

Namun penelitian terbaru yang dimuat dalam The New England Journal of Medicine menemukan bukti bahwa gangguan pertumbuhan itu tetap bertahan sampai dewasa. 

Dalam penelitian 943 anak berusia 5-13 tahun secara acak diberikan dosis harian obat asma budesonide, nedocromil atau plasebo selama 4-5 tahun. Budesonide adalah obat hirupan glukokortisoid yang dijual dengan merk Pulmicort, sedangkan nedocromil adalah obat nonsteroid. 

Seluruh anak-anak tersebut juga mendapatkan albuterol, bronkodilator, yang merupakan standar pengobatan asma menurut departemen kesehatan AS.

Di usia 25 tahun, para responden penelitian dikumpulkan kembali dan diukur tinggi badannya. Mereka yang mendapatkan budenoside rata-rata memiliki tinggi badan setengah inci lebih pendek dibanding anak yang mendapat plasebo. Makin tinggi dosis obat yang didapat anak, makin banyak pula perbedaan tinggi badannya saat dewasa.

Perbedaan tersebut tetap konsisten setelah faktor risiko lain diperhitungkan, seperti usia, tinggi badan awal, ras, jenis kelamin, durasi dan keparahan asma, serta faktor lain. 

"Cukup banyak penelitian yang menunjukkan inhaler kortikosteroid akan mengganggu pertumbuhan tinggi badan anak di usia prepubertas. Tetapi ini adalah studi jangka panjang pertama yang memberikan bukti gangguan pertumbuhan tinggi badan," kata ketua peneliti H.William Kelly.

Lantas, apakah obat asma glukokorsteroid perlu dihindari? Kelly menyarankan agar anak diberikan dosis obat yang rendah. 

"Kortikosteroid adalah obat asma yang efektif. Karena itu pada anak-anak pemberian dosis rendah mungkin akan menghindari efek sampingnya," kata Kelly. (kompas)

Cobalah menggunakan produk Tiens Muncord Capsules  untuk menghilangkan asma dan membantu tinggi badan gunakan Peninggi Badan Tiens.

Sunday, July 13, 2014

Si Jangkung Beresiko Rendah Gagal Jantung


Ada banyak keuntungan memiliki postur tubuh tinggi badan yang ideal. Salah satunya adalah risikonya untuk terkena serangan jantung lebih rendah dibandingkan orang bertubuh pendek. Hal itu dibuktikan dalam studi teranyar yang dimuat dalam jurnal American Journal of Cardiology. 


"Penelitian ini tidak menjelaskan apakah tinggi badan seseorang memiliki korelasi langsung terhadap perkembangan gagal jantung atau tidak," kata pemimpin peneliti Luc Djouss, dari Brigham and Women Hospital dan Harvard Medical Center.



Peneliti menduga bahwa ada kemungkinan pengaruh biologis pada orang yang memiliki tubuh jangkung, seperti misalnya jarak antara jantung dan cabang-cabang tertentu dari arteri dan pembuluh darah - yang dapat menurunkan stres pada jantung. Penelitian ini melibatkan lebih dari 22.000 dokter laki-laki, di mana pengamatan dimulai ketika para peserta menginjak usia pertengahan atau 50 tahun.




Setelah mengisi kuesioner awal yang bertanya seputar kondisi tinggi, berat badan dan kesehatan, kemudian peserta mengisi survei lanjutan di mana mereka melaporkan hasil diagnosa medis terbaru setiap tahun.



Setelah di follow up selama 22 tahun, peneliti menemukan bahwa ada 1.444 peserta atau sekitar 7 persen yang mengarah ke gagal jantung. Peneliti juga menemukan bahwa pria dengan postur badan jangkung memiliki risiko lebih rendah mengalami gagal jantung.



Kategori pria yang tinggi dalam penelitian ini adalah mereka yang memiliki tinggi badan lebih dari 1,8 meter - dengan risiko lebih rendah mendapatkan gagal jantung sebesar 24 persen. Sedangkan peserta dengan tinggi badan 1,72 meter atau lebih pendek, memiliki risiko lebih tinggi untuk didiagnosa gagal jantung.



Dalam risetnya, peneliti juga telah memperhitungkan faktor risiko lainnya seperti usia, berat badan, penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) dan diabetes. Namun peneliti mengatakan bahwa tinggi badan bukanlah faktor utama pemicu gagal jantung. Menurut peneliti, asalkan tetap menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergisi seimbang dan rutin melakukan aktivitas fisik, risiko ini bisa ditekan.

Mau tinggi badan bertambah ? Klik Peninggi Badan Tiens

Friday, July 11, 2014

Air Bersih dan Sabun Pengaruhi Tinggi Badan Anak

Tinggi badan anak ternyata bukan cuma dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi. Ketersediaan air bersih dan sabun juga dinilai penting. 

Penelitian menunjukkan, metode dasar dalam hal kebersihan bisa meningkatkan tinggi badan seorang anak sampai setengah sentimeter. 

Selain itu, kebersihan diri yang buruk juga akan meningkatkan risiko infeksi usus sehingga penyerapan nutrisi berkurang. WHO memperkirakan, 50 persen kasus malnutrisi pada anak terjadi karena diare dan infeksi cacing pada pencernaan.

Studi tersebut dilakukan di 14 negara berpendapatan rendah sampai menengah, antara lain Banglades, Etiopia, Cile, dan Nepal, menggunakan data 9.000 anak.

Hasilnya, peningkatan kualitas air dan sabun akan menyebabkan anak tumbuh lebih tinggi. Anak berusia kurang dari 5 tahun yang mandi dengan air bersih dan sabun akan tambah tinggi setengah sentimeter. 

"Cara sederhana ini berefek besar pada pertumbuhan anak. Menyediakan air bersih dan sanitasi efektif mengurangi kematian akibat diare pada anak berusia di bawah 5 tahun," ujar peneliti senior dr Alan Dangour. 


Penemuan ini diharapkan dapat menjadi kunci mengurangi malnutrisi yang menyebabkan kematian 3,1 juta anak tiap tahunnya. Setengah dari jumlah korban meninggal pada usia di bawah 5 tahun.

Analis kebijakan senior dari WaterAid, Yael Velleman, mengatakan, hubungan antara air yang kotor, sanitasi, dan nutrisi bisa menjelaskan mengapa anak di suatu negara lebih pendek daripada di negara berkembang lainnya.

Perbaikan nutrisi melalui peningkatan kualitas air dan sabun akan mengurangi jumlah anak pendek. Hal ini tentu berdampak positif pada pertumbuhan fisik dan mental sekitar 165 juta anak dari negara terbelakang. (kompas)

Tuesday, July 8, 2014

Tubuh Pendek Bikin Paranoia?

Tinggi badan rupanya berhubungan dengan perasaan negatif pada diri sendiri. Sebuah studi baru yang dipublikasi dalam jurnal Psychiatry Today menemukan, orang yang secara virtual "diturunkan" tinggi badannya cenderung untuk merasa rendah diri dan mudah curiga.
Dalam studi tersebut, para peneliti asal Inggris melakukan analisa terhadap 60 wanita dewasa yang menggunakan stimulasi virtual sehingga menurunkan tinggi pandangan. Artinya, di dalam percobaan tersebut, peserta studi memiliki tinggi badan yang lebih pendek dalam sebuah perjalanan virtual.
Para peserta "dibawa" untuk berjalan-jalan di jalan bawah tanah di London. Pada perjalanan pertama, tinggi peserta tidak dikurangi, namun pada perjalanan kedua, tinggi mereka dikurangi sekitar 25 cm.

Peserta pun diminta untuk memberikan komentar pengalamannya untuk kedua perjalanan virtual mereka. Mereka melaporkan, ada peningkatkan perasaan negatif seperti merasa tidak mampu, rendah diri, dan tidak disukai di perjalanan kedua.
Mereka juga menunjukkan peningkatan perasaan paranoia terhadap orang-orang yang berada di sekelilingnya dalam perjalanan virtual. Faktanya, sebagian besar peserta tidak menyadari bahwa tinggi badannya dikurangi di perjalanan yang kedua.
Peneliti mengatakan, perjalanan virtual dapat mewakili pejalanan di kehidupan sebenarnya. Peserta pun kebanyakan berlaku sama seperti realita. Mereka mencatat, peserta cenderung mudah curiga sehingga memicu mereka mengalami paranoia di tubuh yang lebih pendek.
"Ini menunjukkan, rasa curiga yang berlebihan pada orang lain secara langsung membentuk perasaan negatif pada diri sendiri," ujar ketua studi Daniel Freeman, profesor di University of Oxford. (kompas dilansir dari foxnews)

Sunday, July 6, 2014

Tinggi Badan Bisa Dikenali Lewat Suara


Studi terbaru menemukan, tanpa perlu melihat langsung, suara bisa menentukan tinggi badan seseorang.


Para peneliti melibatkan responden pria dan wanita untuk mendengarkan rekaman suara pria dan wanita yang sedang membaca dengan tinggi badan bervariasi. Para responden ini diminta membuat urutan pembicara dari yang paling tinggi hingga pembicara paling pendek.



Hasilnya, pria dan wanita yang mendengarkan suara tersebut mencapai tingkat akurasi hingga 62 persen dalam mengidentifikasi tinggi pembicara. Tingkat akurasi ini lebih tinggi dibandingkan pengujian yang dilakukan sendiri oleh para peneliti tanpa melibatkan responden. 



Hasil studi ini dipresentasikan di pertemuan Acoustical Society of America di San Francisco. Menurut para peneliti, temuan ini juga bisa bermanfaat untuk membantu pemecahan kasus kejahatan. Namun, data dan kesimpulan dari studi ini masih dipandang sebagai temuan awal yang perlu dipublikasikan di jurnal medis dengan ulasan dari peer-group.



Penulis studi yang juga psikolog dari Washington University di St Louis, John Morton, mengatakan, kemampuan mengindentifikasi tinggi badan dari suara ini bisa jadi terkait dengan tipe suara yang disebut resonansi subglottal. Resonansi suara ini dihasilkan dari saluran udara paling bawah pada paru-paru.



"Cara terbaik untuk membayangkan resonansi subglottal adalah dengan meniup botol kaca, yang berisi cairan penuh dan yang tidak penuh. Semakin sedikit cairan di botol tersebut, suara yang dihasilkan lebih kecil," ungkap Morton.



Frekuensi resonansi subglottal berbeda bergantung pada tinggi badan seseorang. Semakin rendah resonansi, maka badan seseorang makin tinggi.





"Pada manusia, resonansi bagian dari kelompok besar suara, yang mirip dengan musik orkestra yang muncul saat memainkan botol kaca. Tak mudah mendengarkan resonansi suara," terang Morton.

Friday, July 4, 2014

Hati-Hati Orang Pendek Berisiko Sakit Jantung

Tinggi badan kurang dari 165,4 cm pada pria dan 153 cm pada wanita akan meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Ini karena pembuluh darah yang menuju jantung lebih kecil sehingga lebih mudah terjadi sumbatan.  
Setelah menganalisis data lebih dari tiga juta orang, para ahli dari Eropa menyimpulkan bahwa orang yang tinggi badannya tergolong pendek memiliki risiko 1,5 kali lebih tinggi terkena serangan jantung dibandingkan dengan orang yang tinggi.
Kendati demikian, orang yang pendek tidak perlu khawatir. "Tinggi badan cuma salah satu faktor. Meski tinggi badan tidak bisa diubah, kita bisa mengubah faktor lain, seperti berhenti merokok dan berolahraga," kata ketua peneliti, Dr Tuula Paajanen.
Dengan mengetahui faktor risiko ini, orang-orang yang termasuk dalam kelompok pendek diharapkan lebih peduli menjaga kesehatannya. "Dengan demikian, orang yang punya risiko bisa lebih mengontrol kesehatan jantungnya lebih serius," kata Prof Jaako Tuomilehto dari Universitas Helsinki, Finlandia.
Di lain pihak, orang yang tinggi bukannya terbebas dari risiko sakit jantung. "Mereka tetap punya risiko yang sama dengan orang yang pendek," kata Tuomilehto.
Upaya menjaga kesehatan jantung yang utama adalah berolahraga teratur, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, dan pola makan yang seimbang. "Berapa pun tinggi badan Anda, tindakan pencegahan ini penting dilakukan," (kompas)
Yuk mulai konsumsi nutrisi yang dapat membantu memberi asupan kalsium sehinggi tinggi badan ideal dapat tercapai.